MagnaQM Article

Mengapa Setelah “Go-Live” Tim tetap Kembali ke Cara Kerja Lama?

Dalam banyak inisiatif transformasi organisasi, terutama dalam implementasi sistem baru seperti ERP, digital workflow, atau perubahan model kerja, fase paling krusial justru sering terjadi setelah Go-Live.

Secara formal, perubahan telah selesai diluncurkan. Namun dalam praktik sehari-hari, sebagian tim mulai kembali menggunakan cara kerja sebelumnya.

Fenomena ini sering dianggap sebagai bentuk resistensi terhadap perubahan. Padahal dalam beberapa kasus, penjelasannya justru berkaitan dengan bagaimana sistem kebiasaan bekerja di otak manusia.

Dalam perspektif neuroscience dan psikologi perilaku, perubahan perilaku organisasi sangat terkait dengan proses habit formation yang melibatkan sistem basal ganglia di otak

Peran Basal Ganglia dalam Kebiasaan Kerja

Basal ganglia merupakan bagian dari sistem otak yang berperan dalam pembentukan kebiasaan serta automatisasi perilaku yang berulang.

Pada tahap awal, ketika seseorang mempelajari cara kerja baru, perilaku tersebut bersifat goal-directed. Individu masih berpikir secara sadar tentang langkah yang harus dilakukan. Namun seiring waktu dan pengulangan, kontrol perilaku dapat beralih menjadi kebiasaan otomatis yang dipicu oleh situasi tertentu.

Contohnya sederhana:
ketika masuk ruangan gelap, seseorang langsung menyalakan lampu tanpa berpikir. Tindakan tersebut bukan lagi keputusan sadar, melainkan respons yang dipicu oleh konteks.

Hal yang sama juga terjadi di organisasi.

Ketika karyawan sudah bertahun-tahun menggunakan proses tertentu, proses itu menjadi stimulus–response pattern yang tersimpan kuat dalam sistem kebiasaan otak.

Dalam konteks ini, proses ini menjelaskan mengapa:

  • Proses kerja lama terasa lebih cepat dilakukan
  • Karyawan secara refleks mengikuti pola sebelumnya
  • Sistem baru terasa lebih berat pada tahap awal

Bukan karena individu tidak mendukung perubahan, melainkan karena jalur perilaku lama telah terbentuk kuat secara neurologis.

Mengapa Periode 90 Hari Setelah Go-Live Sangat Kritis

Dalam banyak program perubahan, perhatian organisasi biasanya terfokus pada fase implementasi. Namun dari perspektif perilaku, fase setelah perubahan diluncurkan justru sangat menentukan.

Perilaku baru memerlukan waktu dan pengulangan yang konsisten sebelum beralih dari tindakan yang diusahakan secara sadar menjadi kebiasaan yang otomatis. Perubahan perilaku berkembang secara bertahap dan membutuhkan periode pengulangan yang cukup sebelum stabil.

Dalam beberapa penelitian, proses pembentukan kebiasaan sering diamati secara intensif selama 90 hari pertama, karena pada fase ini peningkatan kekuatan kebiasaan biasanya terjadi paling signifikan sebelum akhirnya mendatar ketika perilaku mulai otomatis.

Karena itu, dalam praktik manajemen perubahan, periode 60–90 hari setelah Go-Live sering dianggap sebagai window of reinforcement.

Fokus pada Coaching dan Psychological Safety, Bukan Sekadar Hasil Akhir

Untuk memastikan fase kritis ini berjalan efektif, organisasi tidak cukup hanya memantau metrik kinerja. Pemimpin perlu hadir melalui coaching operasional dan dukungan langsung di lapangan.

Namun ada satu faktor penting yang sering menentukan keberhasilan fase ini: psychological safety dalam tim.

Perubahan proses kerja hampir selalu menciptakan ketidakpastian. Ketika tim mencoba sistem atau cara kerja baru, kesalahan kecil hampir tidak terhindarkan.

Psychological safety adalah keyakinan bersama bahwa lingkungan kerja cukup aman untuk:

  • bertanya
  • mengakui kesalahan
  • meminta bantuan
  • mencoba pendekatan baru

Peran coaching dari pemimpin tim sangat penting dalam membangun kondisi ini.

Tanpa dukungan tersebut, tim yang mengalami kesalahan selama fase adaptasi cenderung merasa terancam secara profesional. Dalam kondisi seperti ini, respons yang paling umum muncul adalah kembali ke cara kerja lama yang sudah terasa aman dan familiar.

Implikasi bagi Pemimpin Transformasi

Keberhasilan perubahan tidak hanya ditentukan oleh strategi atau teknologi yang digunakan. Keberhasilan perubahan lebih banyak ditentukan oleh kemampuan organisasi untuk mendesain ulang kebiasaan kolektif.

Beberapa prinsip yang didukung penelitian antara lain:

  1. Memecah Perubahan Menjadi Perilaku Kecil

Perubahan perilaku lebih mudah terjadi ketika individu dapat mencoba langkah kecil yang berulang dalam konteks kerja nyata. Pendekatan ini membantu mengurangi resistensi psikologis sekaligus mempercepat pembentukan kebiasaan baru.

  1. Menguatkan Perilaku Baru Secara Konsisten

Repetisi merupakan faktor utama dalam pembentukan kebiasaan. Tanpa pengulangan yang konsisten, perilaku baru sulit bertahan dalam jangka panjang.

  1. Menciptakan Lingkungan Belajar yang Aman

Psychological safety meningkatkan kemampuan tim untuk mencoba cara baru tanpa takut melakukan kesalahan. Lingkungan seperti ini sangat penting dalam fase awal perubahan organisasi.

Pada akhirnya transformasi organisasi pada dasarnya bukan hanya perubahan sistem atau proses kerja. Transformasi adalah proses mengubah kebiasaan manusia dalam organisasi. Perubahan yang berhasil terjadi ketika perilaku baru cukup sering diulang hingga menjadi bagian dari sistem kebiasaan.

Itulah sebabnya beberapa kegagalan transformasi gagal bukan karena strategi yang salah, tetapi karena organisasi berhenti terlalu cepat pada fase implementasi, sebelum kebiasaan baru benar-benar terbentuk.

Bagi pemimpin, memahami mekanisme ini membantu melihat resistensi bukan sebagai penolakan, melainkan sebagai bagian dari proses adaptasi biologis yang wajar dalam perubahan.

Bagaimana pengalaman Anda dalam fase 60–90 hari setelah implementasi perubahan? Apakah tim Anda berhasil mempertahankan cara kerja baru, atau justru terjadi rollback ke proses lama?

Mari berbagi perspektif di kolom komentar.

#MagnaQM #ManajemenPerubahan #TransformasiOrganisasi #ChangeManagement #Kepemimpinan #BudayaOrganisasi #DigitalTransformation #OrganizationalChange #LeadershipInsights 

Referensi:

  • Edmondson, A. (1999). Psychological safety and learning behavior in work teams. Administrative Science Quarterly, 44(2), 350–383. https://doi.org/10.2307/2666999 
  • Seger, C. A., & Spiering, B. J. (2011). A critical review of habit learning and the basal ganglia. Frontiers in Systems Neuroscience, 5(66). https://doi.org/10.3389/fnsys.2011.00066 
  • van der Weiden, A., Benjamins, J., Gillebaart, M., Ybema, J. F., & de Ridder, D. (2020). How to form good habits? A longitudinal field study on the role of self-control in habit formation. Frontiers in Psychology, 11(560). https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.00560 
  • Yin, H. H., & Knowlton, B. J. (2006). The role of the basal ganglia in habit formation. Nature Reviews Neuroscience, 7(6), 464–476. https://doi.org/10.1038/nrn1919 

Dapatkan Navigasi Strategis Langsung ke Inbox Anda

Jangan lewatkan intisari dari setiap diskusi MQM Insights, ringkasan buku terbaru, serta artikel mendalam seputar PMO dan Manajemen Perubahan. Bergabunglah dengan komunitas pemimpin perubahan kami untuk mendapatkan update reguler yang relevan bagi organisasi Anda.