5 Mitos Manajemen Proyek dan Faktanya

5 Mitos Manajemen Proyek dan Faktanya

Mari kita kaji kebenarannya!

– – –

 

Kita mungkin sudah tahu bahwa Project Manager (PM) merupakan nakhoda dalam suatu proyek. Kita juga tahu bahwa awal dari proyek adalah suatu perencanaan yang kemudian disepakati dan dieksekusikan.

 

Seiring dengan banyaknya jenis proyek yang berjalan saat ini, ada mitos-mitos yang muncul dalam proyek ataupun manajemennya. Akan tetapi, sesuai dengan namanya, mitos yang berkembang perlu dipertanyakan lagi kebenarannya. Berikut lima mitos umum mengenai manajemen proyek yang perlu dikaji lebih lanjut lagi kebenarannya:

 

  1. Segala sesuatu mengenai proyek itu bisa diperbaiki oleh PM

PM memang hadir untuk mengatur dan memastikan bahwa proyek berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, ekspetasi mengenai kelancaran proyek sangat tertuju pada PM. Perlu diingat bahwa tidak semua hal bisa diperbaiki oleh PM dalam suatu proyek, apalagi jika masalah yang datang tidak juga ditemukan solusinya hingga akhir proyek. Pihak PM, stakeholder, dan sponsor perlu mengenali dan menyetujui kapan waktunya menutup suatu task atau inisiatif.

 

  1. Klien selalu mengetahui apa yang mereka inginkan

Sering kali klien terlihat mengetahui apa yang mereka cari dalam suatu proyek. Sesungguhnya, klien hanya tahu apa yang mereka harapkan untuk diraih, bukan apa yang mereka butuhkan. Tentunya dalam rangka usaha pencapaian target, ada hal-hal yang harus dipikirkan dalam menentukan target yang ingin diraih, seperti seberapa realistis, spesifiknya target tersebut, dsb. Oleh karena itu, peran PM dan tim proyek begitu penting dalam menurunkan “ekspetasi berlebihan” dari stakeholder tersebut dan mengidentifikasikan kebutuhan proyek yang sesungguhnya. Hal ini tentu saja dalam rangka menemukan strategic goal yang diinginkan dari stakeholder.

 

  1. Fakta dan statistik lebih penting dibandingkan perasaan dan persepsi

Hal ini erat hubungannya dalam penarikan keputusan. Fakta memang begitu penting, namun hal itu tidaklah mutlak. PM juga harus memperhatikan perasaan dan persepsi yang timbul dalam menghadapi perubahan internal suatu organisasi. Jangan sampai keputusan yang diambil, yang bisa jadi hanya berdasarkan fakta, malah memicu konflik.

 

  1. Semua PM bisa mengeksekusi berbagai jenis proyek dengan sukses

PM-PM tersebut mungkin memang menjalani ujian PMP dan pelatihan secara bersamaan. Akan tetapi, mereka tetaplah individu yang berbeda. Pengalaman, gaya kepemimpinan, dan visi setiap PM begitu unik. Oleh karena itu, kemampuan mereka dalam menyelesaikan jenis proyek tertentu berbeda pula.

 

  1. Perubahan scope menandakan proyek sedang bermasalah

Perubahan scope itu lumrah terjadi dalam suatu proyek. Hal tersebut bukanlah pertanda adanya kegagalan proyek. Perubahan scope seharusnya memang diekspetasikan dapat terjadi, seiring adanya change dalam proyek yang acap kali terjadi.

 

Comments

comments