5 Tipe Proposal Proyek yang Mudah Disetujui 

5 Tipe Proposal Proyek yang Mudah Disetujui 



 

Mau proposal proyek anda cepat dilirik?

– – –


Ada satu hal yang penting dilakukan pada permulaan proyek…

Menulis proposal proyek.

Ini merupakan salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki pelaku proyek. Dari proposal tersebut, anda harus bisa meyakinkan pembaca, bahwa hasil dari proyek yang anda akan memberikan dampak positif bagi pihak pemilik proyek (Project Owner). Pastikan bahwa anda tahu siapa dan apa latar belakang si pemilik proyek tersebut.

Secara keseluruhan ada tiga hal yang perlu dilakukan dalam pembuatan proposal proyek. Hal pertama adalah mengetahui tipe proposal proyek yang ingin anda tulis, selanjutnya merencanakan dan terakhir adalah menulis proposal anda.

Kali ini, saya akan mengulas lima tipe proposal yang mudah untuk disetujui. Tipe-tipe proposal tersebut dibuat berdasarkan latar belakang proposal tersebut dibuat. Kelima tipe proposal tersebut juga sangat cocok ditujukkan untuk proyek baru. Berikut ulasannya:

 

Macam-Macam Proposal Proyek

 

  1. Formally Solicited (Proposal yang diminta secara formal)

Tipe proposal ini biasanya dibuat sebagai respon dari permintaan proposal yang dikeluarkan oleh pemilik proyek. Biasanya mereka akan mengeluarkan permintaan tersebut dalam suatu dokumen resmi dan formal yang bernama Request For Proposal (RFP). Dokumen tersebut biasanya juga memuat kebutuhan pengguna yang ingin dipenuhi. Oleh karena itu, proposal yang anda buat sebaiknya dapat menjawab kebutuhan yang diinginkan. Jangan lupa juga untuk mencantumkan informasi, jangka waktu, stakeholder, pembagian anggaran (budget) dan pengawasan proyek anda ke dalam proposal.

  1. Informally Solicited (Proposal yang diminta secara informal)

Tipe proposal ini sebenarnya tidak beda jauh dengan tipe Formally Solicited, hanya yang membedakan adalah informasi yang diminta dari pembuatan proposal ini berasal. Proposal ini berdasarkan dari sumber yang tidak resmi. Setidaknya anda harus melakukan riset kecil-kecilan untuk mengetahui metode dan objektif yang tepat, karena si pemilik proyek tidak memberikan penjelasan secara terperinci mengenai kebutuhan proyek.

  1. Unsolicited (Proposal yang tidak diminta)

Serupa dengan cold call, tapi tidak sama. Proposal ini dibuat tanpa diminta sebelumnya oleh si pemilik proposal. Jika anda diminta untuk membuat proposal dengan model seperti ini, anda harus membuatnya semenarik mungkin. Pastikan proposal yang dibuat begitu persuasif bagi si pembaca untuk melihat dan menyetujui proyek anda.

  1. Continuation (Proposal yang berkelanjutan)

Proposal dengan tingkat penerimaan yang paling tinggi, karena proposal ini merupakan jenis proposal proyek yang dibuat sebagai kelanjutan proyek yang sudah disetujui sebelumnya. Biasanya proposal ini dibuat untuk meminta dana proyek baru. Konten penting yang harus dimuat dalam jenis proposal ini adalah mengingatkan pembaca bahwa proyek yang akan dijalankan merupakan kelanjutan proyek yang sebelumnya sudah disetujui. Anda juga harus memuat rekam jejak proyek sebelumnya, laporan perkembangan proyek, dan resources yang dibutuhkan di proyek selanjutnya pada proposal tipe ini.

  1. Supplemental (Proposal untuk meminta penambahan resources proyek)

Proposal ini dibuat untuk meminta penambahan sumber daya (resources) proyek. Jika proyek anda mengalami pertambahan lingkup (scope), anda perlu untuk membuat proposal ini. Anda perlu menekankan kegunaan proyek yang sedang berjalan dan meyakinkan pembaca agar berinventasi dengan proyek yang anda jalani. Hal-hal yang perlu dimuat dalam proposal adalah rekam proposal proyek yang dijalankan, laporan perkembangan proyek, kesulitan yang dihadapi, dan permintaan persetujuan.
 
Satu hal penting yang perlu diketahui dalam membuat proposal proyek adalah mengetahui maksud dan tujuan awal proposal tersebut itu dibuat. Apakah bentuk respon dari RFP, cold proposal, atau penambahan lingkup (scope).
 
Yuk, mulai buat proposal proyek anda!

 

Sumber: 

www.process.st

Comments

comments