Pertolongan Pertama Pada Kegagalan (P3K)

Pertolongan Pertama Pada Kegagalan (P3K)

 

Bisa menjalin kerjasama dengan berbagai pihak juga merupakan suatu bentuk integritas, lho…

– – –

 

 

Kegagalan proyek (Project Failure) memang menjadi momok yang menakutkan bagi Project Manager (PM) dan tim proyek. Sudah banyak data statistik yang menunjukkan berapa jumlah kegagalan proyek terjadi dan sudah menjadi hal yang lumrah bahwa angkanya begitu tinggi.

 

Banyak penyebab terjadinya kegagalan proyek, diantaranya kurangnya penerapan metodologi manajemen proyek dan fase proyek yang sudah ditentukan di dalam proyek yang sedang berjalan, implementasi proyek yang kurang berkembang dalam lingkup tim, dan kurangnya PM dalam mengelola tim proyek.

 

Jika proyek anda mengalami tanda-tanda kegagalan, seperti tim proyek yang disfungsional, stakeholder yang tidak terlibat, lingkup (scope) yang ambigu, dan masih banyak lagi, apa yang ada lakukan? Pastikan anda melakukan langkah-langkah Pertolongan Pertama pada Kegagalan (P3K). Seperti apakah langkah-langkahnya?

 

  1. Segera buat timeline kejadian dan masukkan hal-hal yang diketahui.

Ketika ada sinyal-sinyal terjadinya kegagalan proyek, sangat penting buat anda untuk mekanisme project issue management. Salah satunya adalah membuat timeline masalah. Anda perlu membuat timeline kejadian dan issue log, bahkan melakukan analisis Monte Carlo untuk menghitung risiko proyek. Pencatatan masalah akan membuat analisis penyelesaian masalah menjadi lebih mudah.

 

  1. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan

Seperti yang sudah dijelaskan di artikel sebelumnya. Terkadang, anda perlu untuk diam dan memperhatikan keadaan sekitar. Jangan sampai anda terlalu cepat menarik kesimpulan, sehingga anda membuat keputusan diawal. Ingat, keputusan yang salah akan menambah kegagalan anda dalam proyek untuk selanjutnya.

 

  1. Buat semacam penilaian (assessment)

Anda perlu membuat tim assessment yang fokus pada penilaian performa proyek. Tim assessment ini nantinya akan menilai beberapa hal dalam proyek, seperti project charter (apakah ia benar-benar menggambarkan tujuan proyek), estimasi proyek (apakah anggaran proyek yang diestimasi benar-benar realistis), dan Work Breakdown Structure (WBS) (apakah WBS terlihat lengkap dan benar-benar menggambarkan seluruh pekerjaan yang harus diselesaikan). Ketiga hal tersebut masih sebagian kecil dari aspek-aspek proyek yang harus diperhatikan oleh tim assessment, lho.

 

Comments

comments