Ternyata Perusahaan Start Up Juga Membutuhkan Project Manager

Ternyata Perusahaan Start Up Juga Membutuhkan Project Manager

Butuh seorang figur yang paham implementasi manajemen proyek.

– – –

Anda tentu percaya bahwa Project Manager (PM) begitu dibutuhkan pada perusahaan besar atau menengah ke atas. Tetapi tahukah anda bahwa perusahaan start-up ternyata juga membutuhkan PM, lho. Mereka begitu membutuhkan Project Manager dalam penyelesaian proyek mereka. Permasalahan-permasalahan yang dialami oleh perusahaan start-up dapat terjawabkan dengan adanya implementasi proyek yang dikomandokan PM. Adanya PM tentu dapat menjawab tiga permasalahan utama yang sudah dilansir oleh Forbes. Apa sajakah permasalahan-permasalahan tersebut?

 

  1. Kejelasan Key Value Preposition

Satu pertanyaan penting yang perlu dijawab bagi suatu perusahaan start-up adalah “Apa yang dilakukan?” Jawaban dari pertanyaan tersebut tidak hanya menjawab produk atau jasa apa yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut, tetapi juga nilai manfaat (benefit) produk atau jasa yang ditawarkan kepada pengguna tersebut. Hal itulah yang disebut dengan Key Value Preposition. Value preposition merujuk pada pernyataan bisnis atau marketing pada suatu perusahaan yang digunakan untuk menjawab pertanyaan mengapa pengguna perlu mengunakan produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan tersebut. Agar perusahaan start-up tersebut sukses, mereka harus memahami terlebih dahulu key value preposition yang mereka usung. Jadi, perusahaan tidak hanya dapat menjelaskan keunggulan fitur-fitur apa saja dari produk atau jasa mereka, tetapi juga dapat menjelaskan kegunaan apa yang akan didapatkan oleh pengguna dari produk atau jasa tersebut.

 

  1. Prioritas Tujuan

Perusahaan start-up umumnya dimulai dari sekelompok orang yang sudah saling mengenal dan kemudian memutuskan kerja sama dalam membuat suatu produk atau jasa. Kedekatan personal diantara mereka di satu sisi sangat bagus dalam hal kekompakkan tim, namun bisa menjadi bumerang bagi mereka jika tidak diselesaikan secara profesional. Tiap anggota dalam suatu perusahaan start up sering kali memiliki pemikiran sendiri-sendiri, sehingga mereka memiliki prioritas tujuan yang berbeda tiap individunya. Hal tersebut dapat memicu kebimbangan dalam memutuskan langkah-langkah apa saja untuk perusahaannya. Selain itu, kedekatan personal antar anggota cenderung susah mengatakan “tidak” untuk mencegah konflik diantara mereka. Oleh karena itu, PM dapat hadir sebagai sebagai seseorang yang memiliki kewenangan dalam penarikan keputusan.

 

  1. Scope Creep

Scope creep tidak hanya menjadi momok bagi perusahaan-perusahaan besar, namun juga perusahaan start-up. Scope creep didefinisikan sebagai kebutuhan-kebutuhan dalam proyek yang meningkat di sepanjang siklus proyek. Contohnya adalah penambahan fitur produk di saat proyek berlangsung, kebutuhan klien yang berubah dan bertambah, dan masih banyak lagi. Scope creep banyak disebabkan oleh perubahan kebutuhan-kebutuhan stakeholder kunci atau bisa juga disebabkan adanya kesalahan komunikasi (miscommunication). Untuk mencegah hal-hal tersebut terjadi, dibutuhkan seseorang yang memiliki pengetahuan dan kuasa dalam manajemen Project Scope. Siapa lagi kalau bukan seorang Project Manager yang bisa melakukannya?

 

Sesungguhnya ketiga permasalahan tersebut dapat dijawab dengan dua kata, Manajemen Proyek. Oleh karena itu, kebutuhan seseorang yang memiliki pengetahuan dalam manajemen proyek di suatu perusahaan begitu mutlak adanya. Selain project manager, perusahaan juga dapat menggunakan seorang staf (biasanya CEO) yang sudah dibekali dasar-dasar manajemen proyek dan berperan sebagai project manager di suatu tim.

 

Sumber:

https://www.forbes.com/sites/forbesfinancecouncil/2017/04/12/why-startups-need-project-managers-now-more-than-ever/#7aad4a1a383e

https://www.wrike.com/project-management-guide/faq/what-is-scope-creep-in-project-management/

Sumber Gambar:

unsplash.com

Comments

comments